Ucapan Erick Thohir di akun twitternya pada Rabu (23/3) lalu, seperti menggambarkan kegalauannya atas kondisi internal Persib. “Tolak Rasicm di Sepak Bola,” demikian tulis pengusaha muda yang juga salah satu pemegang saham tim kebangaan Bandung itu di kolom tweetnya.

Sehari sebelumnya, Umuh Muhtar mengeluarkan uneg-unegnya setelah merasa jabatannya sebagai Dirut PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) dipreteli. Kini, dia yang sebenarnya merupakan pemegang saham klub pula, hanya ditugasi sebagai manajer tim.

Pernyataannya kemudian menjadi masalah karena menyinggung beraroma kedaerahan dan kiprah WNI keturunan, terutama dalam komposisi pemegang saham Persib. Umuh sendiri memang terkesan kurang akur dengan kumpulan pemegang saham lainnya.

“Saya harus mundur dari Dirut PT PBB, supaya tidak ada orang Bandung. Karena mereka, Jakarta sudah merasa punya Persib itu 70 persen dan ini yang punyanya juga orang asing, bukan pribumi Indonesia,” imbuh Umuh.

Kontan saja, pernyataan panas itu memekakan telinga pemegang saham lainnya yang tergabung dalam konsorsium Persib. Mereka langsung mengadakan komunikasi membahasnya. Ekspresi tidak senang cukup terasa ke permukaan.

“Mereka marah besar. Karena pernyataan itu merupakan serangan terhadap ideologi dan juga nasionalisme,” jelas wakil konsorsium yang menjabat Wakil Direktur PT PBB, M Farhan pada Kamis (24/3).

Menurut dia, pernyataan Umuh Muhtar sangat perlu diluruskan. Pernyataan itu tidak patut dikeluarkan karena seolah ingin menciptakan pengkotakan dalam kehidupan negara berdasar Pancasila.

Di luar itu, semangat pengkotakan hanya merusak iklim investasi karena seolah melarang orang di luar Bandung mengelola Persib. “Rasisme juga bakal menghambat cita-cita menjadikan klub sepakbola Indonesia mandiri dan profesional,” tandasnya.

Tidak Bisa Mangkir

Sang penyiar radio itu dapat memahami alasan klub sebagai perjuangan. Hanya saja, klub tidak bisa mangkir dari derap zaman yang menuntut sentuhan bisnis. Seharusnya, kondisi ini dipahami benar pengelola klub. “Sebagai alat perjuangan tidak boleh berhenti, tapi klub harus terus berkesinambungan dengan cara masuk dunia industri,” tegas sarjana ekonomi jebolan Unpad itu.

Farhan tak memungkiri fenomena ketidakpuasan Umuh sebagai bagian dari adanya semacam masa transisi klub yang sebelumnya menyusu APBD. Umuh sendiri sebenarnya berlatar belakang pengusaha pula. “Ini lebih kepada paradigma berpikir,” tuturnya.

Lantas apakah konsorsium surut dengan pernyatan bernada rasisme itu? Farhan menegaskan mereka di antaranya Erick Thohir dan Glen Sugita akan tetap berkomitmen. Mereka tetap kepada keputusannya yang semata-mata didasari pertimbangan profesional.

Umuh tetap menjadi manajer, dan perusahaan akan dikembangkan. Di musim ini, Persib untuk sementara terpuruk di papan bawah. “Perlu diingat Glen Sugita merupakan mantan petenis nasional, Erick Thohir juga berkecimpung di dunia olahraga, terutama dikenal di basket. Jadi kemampuan mereka mumpuni untuk mengelola Persib,” katanya. Rev.suaramerdeka cybernews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s